Monday, March 7, 2016

Zaman Presiden BJ Habibie, puluhan orang disekolahkan ke berbagai negara untuk menjadi ahli-ahli nuklir. Namun, setelah lulus dan sampai saat ini sudah mau memasuki masa pensiun, impian Indonesia punya Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) belum kesampaian.



"Zaman Pak Habibie dulu kan puluhan orang disekolahkan untuk jadi ahli nuklir. Sekarang sudah mau pensiun orang-orangnya, ilmunya nggak terpakai," ungkap Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), Kementerian ESDM, Rida Mulyana kepada detikFinance, Jumat (8/5/2015).

Rida mengatakan, para ahli nuklir ini semuanya bergelar Doktor lulusan dari Amerika Serikat, Rusia, Jepang, dan lainnya, khususnya negara yang memiliki PLTN.

"Padahal itu Doktor semua, ada yang lulusan Amerika, Rusia, dan banyak lagi," ucap Rida.

Bertahun-tahun sekolah dan lulus serta memiliki keahlian di bidang nuklir, namun para ahli nuklir yang hampir veteran ini buat paguyuban PLTN.

"Ngenes nggak tuh dengar itu, mereka sudah patah hari, disekolahkan negara, sudah berhasil tapi negara justru tak memanfaatkan keahlian mereka," tutup Rida.

Sebelumnya, Kepala BATAN Djarot Sulistio mengungkapkan, Indonesia sudah membuat program pembangunan PLTN sejak 1985, atau hampir 30 tahun lalu. Segala persiapan dilakukan, sampai memperkuat faktor keselamatan. Namun belum juga terbangun.

"Kita sudah punya program pembangunan PLTN itu sudah 30 tahun, tapi sampai sekarang tidak terbangun," ucap Djarot.

Djarot mengatakan, mulai dari tenaga ahli hingga teknologi sudah disiapkan pemerintah, agar masyarakat yakin PLTN aman.

"Sejak zaman Presiden BJ Habibie sudah dipersiapkan tenaga ahli untuk menangani PLTN, jurusan nuklir juga sudah ada di beberapa universitas. Kita sekarang punya 100 profesor (S3) di bidang nuklir, kita punya 300 lebih S2 di bidang nuklir, itu sudah lebih dari cukup. Karena untuk tangani satu unit nuklir hanya membutuhkan beberapa tenaga ahli saja," ungkapnya.

Tidak hanya itu, BATAN juga sudah berpuluh tahun lamanya memiliki fasilitas reaktor nuklir di Serpong dengan kapasitas 30 megawatt (MW).

"Di fasilitas itu kita juga terapkan latihan kalau terjadi bahaya, melibatkan TNI, Polisi, para medis sampai Kopassus, kurang siap apa kita? Kita itu sudah sangat-sangat siap punya PLTN tinggal kemauan saja yang belum," katanya.

Djarot menambahkan, bahkan yang lebih menyesakkan baginya, Vietnam yang baru beberapa tahun mempersiapkan program pembangunan PLTN sudah akan punya PLTN pada 2022. "Dia kerjasama dengan Rusia, kita? Sudah 30 tahun loh nggak bangun-bangun juga," tutupnya.

0 comments:

Post a Comment