Monday, March 7, 2016


Piranti keras komputer, Laptop, Telepon Seluler dan Elektronik rumah tangga sangat sensitif terhadap fluktuasi nilai tukar Rupiah terhadap US Dollar. Dari Januari hingga akhir April kemarin, kenaikkan harga barang sudah terjadi sebesar 5-8%. Kenaikkan harga Elektronik disaat melemahnya daya beli masyarakat akibat kenaikkan harga-harga barang konsumsi dan kebutuhan pokok, membuat bingung para produsen ataupun penjual.

Beberapa teman saya yang bekerja di Perusahaan yang memproduksi barang Elektronik, pada bulan Maret s/d April sempat dirumahkan. Karena market pasar yang stagnan bahkan cenderung turun. Banyak juga Produsen Elektronik yang mem-PHK para pekerjanya dengan alasan perampingan dan efisiensi perusahaan.

Para Vendor gali lubang tutup lubang. Misalnya ada sebuah Perusahaan yang memproduksi mur dan baut, Perusahaan tersebut biasa mensuplai produknya ke sejumlah Produsen Elektronik, Dimasa perlambatan ekonomi seperti sekarang ini, para Supplier tersebut harus putar otak, cicilan utang mereka pada Bank tetap berjalan, sementara income mereka tergerus karena sedikitnya permintaan barang yang mereka produksi, belum lagi pembayaran dari para customer juga ikut tersendat. Kalau dulu "Ada uang ada barang" sekarang sudah tidak lagi, sekarang "Ada barang bayar belakangan".

Ditambah lagi kenaikkan biaya logistik, upah buruh, bahan baku, transportasi, listrik dan pengetatan pajak. Untuk terus bertahan mereka juga menunda pembayaran ke pihak Bank, yang paling pertama bisa mereka lakukan tentu saja melakukan efisiensi.

Kuantitas menurun, kualitas entahlah? apakah diturunkan juga. Maka benar, kalau ada yang mengatakan dengan bersandar pada data bahwa pertumbuhan ekonomi yang melambat menambah pengangguran sebanyak 300ribu orang. Itu bukan isapan jempol. Memang faktanya demikian, sekelas PMA pun harus merasakan dampak melambatnya ekonomi yang sedang di alami RI.

Kerja, Kerja, Kerja...

Pakai pakaian hitam putih, lengan baju digulung, masuk ke kampung-kampung bagi-bagi Kartu, itu maksudnya apa? Kalau pondasi ekonominya tak pernah dipikirkan secara serius..

*by Aries Rizvi(sumber)

0 comments:

Post a Comment